Selasa, 11 Oktober 2016

Ada cinta dalam doa 2

Posted By: Desi Wangi - 05.23



Hasil gambar untuk bunga mawar

“bismillahirrahmanirrahiim......” terdengar lantunan ayat suci alquran dari suara Linggar yang sedang duduk di mushola dekat kossnya.
“Linggar” panggil Ilham sambil mendekat menghampiri Linggar. Linggar pun menjawab dengan menolehkan kepalanya ke arah Ilham.
“Zilya kirim surat lagi nih”
“Letakkan saja disitu Ham” jawab Linggar sambil menunjukkan Ilham tempat untuk meletakkan surat Zilya.
“Nggar, kasihan Zilya. Mending kau balas suratnya kali ini” Linggar hanya menjawab dengan tersenyum kepada Ilham. “Serius aku nggar”
“belum saatnya Ham” jawab Linggar singkat sambil segera meneruskan kegiatan membaca ayat suci alquran itu.
...


Langkah kaki Linggar yang panjang membawa ia ke tempat menuntut ilmu.  Diiringi sambutan angin yang menyapu lembut wajahnya membuat suasana yang menyenangkan untuk tidur saat itu juga. Namun, Linggar sudah berbeda. Linggar yang isi kepalanya hanya bermain dan bergurau kini sudah menjadi Linggar yang lebih siap menghadapi masa depan. Seolah masa depan akan di depannya sebentar lagi, Linggar tak lagi sempat memikirkan hal yang tidak bermanfaat baginya. Teman-teman yang sedari dulu menemaninya untuk sekedar bersenda guraupun tak lagi sering menampakkan batang hidungnya di pandangan Linggar, sebab Linggar kini sudah berbeda. Jauh dari pandangan Linggar. Sesosok tubuh yang sudah sangat dikenali Linggar mendekat dan memanggil-manggil namanya. Ilham memanggil-manggil Linggar dengan kecepatan tinggi dan suara yang keras seolah ia tak memiliki waktu banyak untuk mengatakan hal yang sepertinya penting kepada Linggar. Respon yang sangat berbeda muncul dari ekspresi Linggar, ia menjawab panggilan Ilham dengan sangat santai.
“ kau kenapa Ham?”
“akhirnya ketemu kau disini juga. Nggar kusarankan ya jangan lewat sini”
“lho kenapa? Ada preman baru di tempat ini?”
“aishh bukan”
“lalu kenapa? Kau ini baru datang aneh sekali”
“disana ada Zilya Nggar”
“hahaha kau ini kenapa? Memangnya kenapa kalau ada Zilya, biasanya juga nggak apa-apa”
“ini beda Nggar”
“alah, aneh kau ini. Zilya berubah jadi monster yang makan manusia?”
“hmm. Zilya sedang dengan pacar barunya” nampak jelas di wajah Linggar ada ekspresi terkejut yang berusaha ia tutupi. Namun, jeda yang sempat terjadi segera Linggar isi dengan tertawa yang tiba-tiba sekali datangnya. Seolah ia ingin menutupi ada kesedihan yang mendalam saat itu. “Kau tak apa nggar? Tak usah lah kau sedih ya, masih banyak wanita di dunia ini. Saat kau sudah pantas nanti, akan banyak yang memanggil-manggil nama kau untuk dilamar” ucap Ilham sambil menepuk-nepuk bahu Linggar seolah berusaha menghibur.
“Tidak Ham, Zilya hanya sedang proses menjadi lebih baik” ucap Linggar sambil pergi berlalu meninggalkan Ilham. Ilham pun hanya terdiam karena tak mengerti apa yang dimaksud Linggar.
...
Angin di bumi masih saja sama, masih sama-sama menyejukkan. Sinar mataharinyapun demikian, masih sama-sama menghangatkan. Oleh sebab itulah, tak ada hal yang tak dapat disyukuri kepada Sang Maha Pencipta. Ada hal lain lagi yang masih sama setelah waktu berjalan sebulan lamanya, perasaan sayang seorang gadis bernama Zilya yang masih sangat besar untuk kekasih di hatinya, Linggar. Meski sudah lama mencoba membuka hati untuk pria lain namun sepertinya hati lebih tahu siapa pemilik sebenarnya. Hati memang begitu, lebih sering tak adil pada pendatang yang baru. Sebab, logika sekuat apapun masih saja bisa kalah jika hati memang tak berkenan. Rasanya hambar, tak ada seninya untuk bisa menjadi cinta. Zilyapun bertahan hanya karena menuruti etika berpacaran. Ya, tentu saja akan terlihat jahat jika baru sebentar memulai sudah meminta berakhir. Namun, etika berpacaran itu tak bisa Zilya tahan lebih lama lagi, ia sungguh tak bisa memaksa dirinya untuk menghadirkan cinta yang memang tidak akan datang. Seolah Zilya yakin betul, siapa yang benar-benar diinginkan hati kecilnya. Pertemuan yang dirancang Zilya hari ini sudah ia rencanakan sangat lama sekali. Rio, kekasih yang tak berhasil merebut hati Zilya pada Linggar mengira pertemuan ini hanya pertemuan biasa, seperti hari-hari sebelumnya. Diisi penuh dengan cerita, lalu diakhiri dengan perasaan seolah tak ingin diakhiri. Ya, tentu saja bukan perasaan yang ada pada Zilya. Perasaan seperti itu hanya dirasakan Rio seorang. Jika begini, hati memang terlihat jahat. Namun, mungkin saja itu bagian dari takdir yang sudah Allah tuliskan di buku kehidupan manusia. Tak terburu-buru Zilya memulainya, masih ada cerita-cerita kecil dan pertanyaan basa-basi terlebih dahulu. Rio pun demikan, banyak cerita yang ia perdengarkan pada Zilya, pertanyaan basa-basi tanda kekhawatirannya pun banyak ia berikan untuk Zilya. Namun, dua jam sudah cukup bagi Zilya untuk mengutarakan kejujurannya yang akan terasa pahit untuk Rio. Zilyapun memulainya dengan lancar, tanpa terbata-bata.
“Rio, sebenarnya aku ingin ngomong sesuatu”
“oh, apa Zil? Katakan saja”
“aku merasa tidak bisa lagi menjalani hubungan ini”
“kenapa Zil? Apa aku melakukan kesalahan?”
“tidak Rio. Aku yang salah”
“aku tidak mengerti Zil”
“aku masih belum bisa mencintaimu Rio, akan lebih baik jika kita berteman saja”
“ah aku sudah tau itu Zil. Tanpa kamu bilang aku sudah bisa merasakan. Cahaya matamu hanya berbinar ketika melihat Linggar”
“oh maaf Rio”
“ya tidak apa, perasaan memang tidak bisa dipaksa. Aku menyayangimu Zil, aku ingin kamu bahagia tanpa pura-pura”
“terimakasih Rio, aku sungguh minta maaf”
“tidak apa Zil, semua akan baik-baik saja. Anggap saja ini bagian dari takdir”
...
bersambung (kek film tersanjung ihihi)

About Desi Wangi

We published High quality Blogger Templates with Awesome Design for blogspot lovers.The very first Blogger Templates Company where you will find Responsive Design Templates.

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright ©

Designed by Templatezy