Sabtu, 29 Oktober 2016

Sebuah Hiasan 4

Posted By: Desi Wangi - 17.18


 Hasil gambar untuk animasi kesedihan
Asik berjalan-jalan dengan Kamal, Nisa merasa liburan kali ini tidak akan pernah ia lupakan seumur hidup. Setiap langkah pemandangan indah, setiap detik momennya pun indah ah rasanya ia bisa jatuh cinta berkali-kali dengan tempat ini dan orang yang berasal dari sini. Sepeda yang ia kendarai pun menambah keindahan suasana hatinya. Dari sini ia bisa memandangi bahu Kamal yang sedang mengendarai sepeda juga di depannya. Dari sini ia bisa merasakan sejuknya udara yang bergerak cepat menyelimuti wajahnya. Wah indah dan nyaman sekali rasanya. Perasaan indah itu tiba-tba dihentikan oleh Kamal yang tiba-tiba juga menghentikan sepedanya. Terlihat seorang gadis dan seorang laki-laki sedang berjalan bersama juga nampak berhenti di hadapan kedua calon dokter ini. Nisa yang tak mengenalnya pun hanya bisa diam dan mencoba berkeliling di sekitar itu sendiri. Sebab ia berpikir mungkin itu teman-teman Kamal yang ingin disapa oleh Kamal. Meskipun, terlihat sekali tidak ada suasana hangat seperti teman disana, yang ada justru sangat dingin.
 “Aduh Kamal tolongin dong” teriak Nisa tiba-tiba.
“Hah, Nis kamu kenapa?” tanya Kamal sambil begegas turun dari sepedanya dan menghampiri Nisa.
“jalanannya licin banget sih” ucap Nisa yang sedang terjatuh di tanah.
“hati-hati makanya”
“Kamal antar aku pulang dulu yuk, baju aku kotor banget”
“ayok Nis” ucap Kamal yang sedang membantu Nisa berdiri sambil memandang ke arah Dila yang matanya tak berhenti menatap tajam ke arah Kamal.
Tidak ada bahasa verbal sedikit pun di bagian ini. Hanya ada bahasa nonverbal yang selalu mengatakan bahwa perubahan yang terjadi ternyata memberikan kesedihan. Dila hanya bisa membiarkan laki-laki yang dulu menuntunnya, kini menuntun perempuan lain di depan matanya. Kamal juga hanya bisa diam melihat perempuan yang dulu di sampingnya, kini di samping laki-laki lain di depan matanya. Waktu seketika berjalan begitu lambat, seolah ingin Kamal dan Dila lebih meresapi rasa sakit di tiap detik ini.
...
Angin malam yang sejuk sedang asik menemani Kamal yang sedang duduk di halaman rumahnya. Seperti sedang menanggung sesuatu yang sangat menyakitkan namun tidak bisa ia katakan apa bentuknya dan bagaimana cara menghilangkannya. Subjek lain pun tiba-tiba ikut bergabung, kini selain angin sejuk Nisa pun ikut menemani Kamal di malam yang agak sedikit sendu bagi Kamal.
“kamal, tempat kamu tuh indah banget ya” ucap Nisa memulai pembicaraan.
“haha iya dong”
“mana katanya ada bidadari?”
“kamu nggak lihat yang tadi pagi?”
“itu bidadarinya?” tanya Nisa terkejut.
“iya haha, tapi dia sedang berubah. Kali ini aku benar-benar takut kehilangan dia, Cuma aku bingung harus apa”

“Kamal?” seru Nisa datar.
“ya nis?”
“jujur aku kira awalnya bidadari itu ibu kamu. Tapi ternyata memang benar-benar wanita yang lain”
“hmm, lalu kenapa?” tanya Kamal lugu.
“kenapa? Ya memangnya kenapa ya?”
“nis?” tanya Kamal yang sepertinya mulai mengerti.
“aku kira kita sudah lebih dari teman meskipun tidak ada yang menyatakannya. Sikap kamu terlalu manis Mal untuk hanya sebagai teman” ucap Nisa dengan setetes air mata yang tidak bisa ia bendung lebih lama lagi.
“Nis, aku nggak pernah bermaksud seperti itu”
“ya Mal, aku lah yang mengartikannya seperti itu. Aku nggak tahu siapa yang harus disalahkan. Jujur 6 bulan kenal kamu, aku nyaman. Kerudung yang belum mau aku pakai, sekarang malah aku merasa kurang kalau belum pakai kerudung. Haha lucu memang, padahal awalnya aku pakai ini hanya ingin perasaan kamu tenang kalau lihat aku”
“nis, maafin aku.Tapi, aku nggak mau jelasin apapun, karena memang aku salah” ucap Kamal dengan perasaan bingung yang sangat besar.
“nggak apa kok Mal”
Nisa pun bergegas masuk ke dalam meninggalkan Kamal seorang diri. Sebagai seorang laki-laki tentu ada hasrat untuk mengejar Nisa, namun ia takut situasi semakin tak bisa diartikan jika ia melakukan itu. Ini seperti, hari pertama yang cukup buruk di tempat yang indah ini.
...
“Dila?” panggil Nisa yang tidak sengaja bertemu dengan Dila di tempat ini, tempat kemarin mereka bertemu.
“ya?”
“namaku Nisa Dil”
“oh ya, ada apa Nis?”
“aku mau jelasin kalau aku dan Kamal hanya sebatas teman. Kamal hanya terlalu baik saja sebagai laki-laki”
“haha kamu seperti sedang berrbicara dengan istrinya Kamal. Kenapa aku harus tahu penjelasan ini?” ucap Dila sambil tertawa kecil.
“aku tahu kalian pacaran kan, dan pasti kamu sekarang sedang marah karena cemburu denganku. Maaf kalau terlalu percaya diri, tapi memang itu kenyataannya”
“aku tidak mengerti sama sekali”
“aku yakin kamu mengerti. Intinya, aku Cuma mau bilang jangan tinggalkan laki-laki yang menyayangimu hanya karena ia terlalu baik dengan wanita lain”
“terimakasih atas nasihatnya, Nis. Aku sungguh tidak sekuno itu, tapi justru karena alasan itu aku menganggap rasa sayang Kamal padaku juga hanya karena sifatnya yang terlalu baik dengan perempuan. Alasan itu membuat aku tidak tahu apa bedanya aku dengan yang lain”
Nisa yang sebenarnya juga tidak suka dengan sikap Kamal pun akhirnya tak bisa menjawab apapun. Ia hanya terdiam karena memang wajar jika Dila berkata begitu. Sikap Kamal padanya tak bisa sepenuhnya dianggap hanya sebagai teman, meskipun memang hanya itu kenyataannya. Di lain sisi, Dila pergi bergegas meninggalkan Nisa sendiri, seolah bisa membaca apa yang ada di pikiran Nisa

to be cont....

About Desi Wangi

We published High quality Blogger Templates with Awesome Design for blogspot lovers.The very first Blogger Templates Company where you will find Responsive Design Templates.

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright ©

Designed by Templatezy