Kamis, 12 Mei 2016

Cinta, menghancurkan atau mengindahkan?

Posted By: Desi Wangi - 20.31


Benarkah cinta ada yang seperti ini?Tumbuh hanya karna terbiasa bersama. Bukankah cinta itu seharusnya hadir begitu saja, tanpa ada campur tangan waktu atau apapun, murni karena pilihan hati. Atau memang cinta hadir dengan jalan yang berbeda-beda? Jika memang seperti itu maka bisakah cinta hadir karena sebuah persahabatan. Bagaimana jika persahabatn jadi hancur karena cinta? Jadi apakah hakikat cinta itu, menghancurkan atau mengindahkan?
Tak ada yang menjawab pertanyaanku, sebab aku menanyainya melalui tulisan. Tapi tak apa, setidaknya kalian tahu apa yang aku rasakan kali ini. Mencintai sahabat itu tidak sakit, sebab tidak tahu akan tergapai atau tetap tidak terjadi apa-apa. Hanya saja semuanya jadi berubah. Dulu saat menatap matanya, seharianpun aku sanggup. Namun, sekarang sedetikpun aku tak punya nyali. Lalu bagaimana perasaan memegang tangan seorang kekasih? apakah sama rasanya saat aku memegang tangannya saat ini? Entahlah, yang aku tahu sekarang saat menggengam tangannya hatiku tiba-tiba berdebar. Saat dia pergipun rasanya berbeda, seperti ada bisikan untuk tetap menahannya disini. Lalu, aku harus bagaimana? diam saja dan nikmati, atau ungkapkan lalu tanggung resiko sendiri?
Jujur saja, aku masih belum paham mencintai sahabat adalah dosa atau wajar saja. Jika wajar saja, lalu mengapa mencintai sahabat lebih sulit dibanding mencintai orang yang sebelumnya memang tidak kita kenal.Namun, jika  itu berdosa adakah orang yang dirugikan? Tentu tidak. Ini hanyalah kehidupan dua sejoli yang tidak ada orang lain di dalamnya.
Ada orang yang bilang padaku, sebenarnya jika cinta berakhir indah atau buruk itu bukanlah salah cinta, melainkan salah pelakunya. Namun, sebelum ke arah sana, cinta tidak akan menjadi cinta jika tidak diungkapkan karena begitupun manusia, hatipun membutuhkan mulut untuk mengungkapkan, membuat cinta menjadi nyata, bukan sekedar hiasan hati yang hanya bisa dinikmati sendiri. Lalu, biarlah sekarang kugunakan mulut ini untuk menyatakan cinta, membuat ia menjadi nyata tak hanya lagi impian atau hayalan. Bila nanti berakhir indah atau buruk sekalipun, baiklah itu memang salah pelakunya, aku. Sebab, jika berakhir buruk, akan kujawab untuk diriku sendiri. Salahku yang mencintai sahabat yang tak mencintaiku juga sebagai kekasih.

Deskar

About Desi Wangi

We published High quality Blogger Templates with Awesome Design for blogspot lovers.The very first Blogger Templates Company where you will find Responsive Design Templates.

5 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga mulll (?) wkwk

    BalasHapus
  3. Cinta keorang tua aja dulu diperdalam baru ke orang lain :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. subhanallah mulqi,wkwkwk
      iya itu mah..

      Hapus

Copyright ©

Designed by Templatezy