Sabtu, 29 Oktober 2016

Sebuah Hiasan 3

Posted By: Desi Wangi - 17.06
Hasil gambar untuk wanita kerudung animasi

Siang yang sangat panas hari ini, seperti matahari sedang ada dua di bumi. Kamal yang sedang kelelahan  setelah kuliah tak ingin membuang-buang waktunya untuk tidak segera beristirahat. Ia pun pergi ke kantin seorang diri. Biasanya selalu ada Nisa si dokter centil di sampingnya. Namun, memang Kamal belum melihat ujung rambutnya sedikitpun hari ini. Tak mau memikirkan hal itu, Kamal segera memesan beraneka makanan dan minuman sehat yang dijual disini. Para mahasiswa kedokteran memang biasa makan di kantin ini, karena memang ini kantin khusus mereka. Makanan dan minuman yang dijual disini hanya yang tergolong makanan yang sehat saja, sangat sesuai dengan profesi yang akan mereka geluti di masa depan, dokter. Profesi yang selalu menanjurkan untuk selalu menjaga kesehatan dengan baik.
“tadaaaa....” teriak Nisa seolah ingin mengejutkan Kamal.
“kenapa kamu?” tanya Kamal heran.
“ada yang beda nggak? Coba tebak?
“nggak ada ah”
“ishh serius “  Ucap Nisa dengan wajah tampak sedikit kecewa.
“iya serius”
“nggak liat nih di kepala aku ngga ada rambut lagi?”
“Oh, kalau itu bukan kamu yang beda. Tapi aku”
“lah kan yang pake kerudung aku?”
“iya, tapi yang perasaannya jadi tenang kan aku”
Mendengar jawaban itu sontak saja membuat perasaan Nisa senang sekali. Seperti waktu berhenti sebentar, hanya dia yang bisa bergerak. Rasanya jika itu yang sungguha terjadi Nisa pasti akan menari-nari dan berputar-putar menikmati rasa senang di hatinya.
“omong-omong sebentar lagi liburan nih, aku bingung mau kemana. Boleh ngga aku main ke rumah kamu saja?” tanya Nisa sambil memasang wajah imutnya agar diperbolehkan oleh Kamal.
“boleh kok”
“yeayy, sungguh?”
“iya”
“ ih jadi nggak sabar. Di tempat tinggalmu ada apa saja nih? Pokoknya harus ke tempat bagus”
“tenang, disana ada bidadari” ucap Kamal sambil tertawa.
“sebel deh kalau Kamal mulai sok sweet”
“yasudah kalau nggak percaya”
...
Tak disangka, udara segar di tempat ini masih bisa dihirup Kamal. Kamal seperti sedang mengulang cerita-cerita indah dipikirannya sekarang. Nisa, teman wanita yang ia ajak berlibur ke tempat tinggalnyapun seperti merasakan kesejukkan udaranya juga. Gunung yang berdiri kokoh di sebelah barat sana adalah dalang dari udara segar ini.  Namun, bukan Cuma udara sejuk yang Kamal rindukan di tempat ini. Keasrian alam, keramah-tamahan orang-orang sekitar, ketenangan, dan masih banyak lagi yang Kamal rindukan. Rasanya segera ia ingin tuntaskan satu persatu kerindua yang teramat besar itu.
“wah ramah sekali ya orang-orang disini” ucap Nisa terkagum-kagum menikmati perjalanannya di samping Kamal.
“haha iya dong, hati-hati bakal rindu tempat ini”  ledek Kamal sambil tertawa.
Mereka berdua pun terus menikmati perjalanan ini walau harus berjalan kaki. Tak jarang mereka bertemu dengan penduduk setempat yang mengenali Kamal lalu disapa dengan sangat ramah, bahkan tak jarang mereka diajak untuk singgah sejenak di rumah penduduk. Namun, akhirnya penantianpun berakhir sudah, rumah sederhana namun menyamankan itu kini sudah di depan mata. Kedatangan kedua calon dokter inipun disambut hangat oleh keluarga Kamal. Tak lupa juga Kamal mengenalkan Nisa kepada keluarganya, walaupun sebelumnya sudah ia kenalkan di telepon. Setelah merasa menyelesaikan tugasnya, Kamal pamit pergi sebentar pada keluarganya dan Nisa. Nisa yang sedang asik diajak berbincang dengan keluarga Kamal tak sempat memikirkan untuk ikut pergi dengan Kamal.
Rumah sederhana yang dulu sering Kamal kunjungipun sekarang sudah ada di depan matanya. Sebab memang letak rumah Dila dan rumah Kamal tidak begitu jauh, hanya membutuhkan waktu 15 menit Kamal pun sudah sampai disini. Sebelum menyapa penghuninya, Kamal memandangi rumah itu sejenak. Menumpahkan seluruh kerinduan yang ia simpan selama ini. Tidak banyak berubah dari rumah itu, namun belum tahu dengan penghuninya.
“hmm, hai Dilaku” ucap Kamal sambil tersenyum ketika melihat seorang gadis cantik pujaannya muncul dari lubang pintu.
“hai juga Kamal”
“udah? Gitu aja? Nggak rindu sama aku?” tanya Kamal sambil berjalan mendekati Dila.
“justru harusnya aku yang nanya sama kamu, kok kamu bisa ingat aku lagi?” ucap Dila sambil tersenyum kecil.
“hahaha pasti ngambek. Ngga apa, aku bosan kalau kamu cantik karena senyum terus. Mana mungkin berlian bisa dilupain sih?”
“hmm” jawab Dila singkat.
“kamu mau kemana?”
“kenapa kamu harus tahu?”
“kok gitu. Ayo aku antar?” pinta Kamal sambil menjulurkan tangannya ke arah Dila, berharap Dila menggapainya.
“nggak perlu, sudah ada Tama” jawab Dila datar sambil menunjuk ke arah belakang Kamal tempat Tama, temannya Dila berdiri.
“Dil, kenapa gini?” tanya Kamal dengan nada seperti orang terkejut.
“kamu mau tahu kenapa? Karena aku sadar berlian kamu nggak Cuma satu”

to be continued

About Desi Wangi

We published High quality Blogger Templates with Awesome Design for blogspot lovers.The very first Blogger Templates Company where you will find Responsive Design Templates.

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright ©

Designed by Templatezy